Pages

Showing posts with label nasehat agama. Show all posts
Showing posts with label nasehat agama. Show all posts

Sunday, July 29, 2012

Karena Imam

Seorg Amerika Non-Muslim yg memperbincangkan tentang Islam dgn seorg Da'i sambil menonton siaran langsung di slh satu channel tv.

Orang Amerika tsb sangat kagum dgn kerumunan orang2 di Masjidil Haram, ada lebih dari (±) 2,000,000 org berkumpul untuk shalat Isya 

Kondisinya sangat ramai dgn kerumunan orang2 hilir mudik tidak beraturan.

Lalu Da'i tsb b'tanya kpd org Amerika tadi :
"Menurut anda, berapa lama waktu yang dibutuhkan supaya orang2 itu bisa baris dgn rapi ?"

Dan org Amerika itupun menjawab :
"2 sampai 3 jam."

Dan Da'i tadi menyatakan :
"Masjidil Haram punya 4 lantai loh."

Si Amerika pun menjawab :
"Kalo begitu butuh waktu 12 jam"

Sang Da'i pun kembali menjelaskan :
"Mereka yang kamu lihat di TV itu datang dari negara yang berbeda dan juga berbeda bahasa satu dengan lainnya"

Org Amerika itu menyanggah lagi:
"Wah, kalo gitu mereka sama sekali gak mungkin bisa baris"

Akhirnya waktu shalatpun tiba dengan tanda bunyinya suara Iqamah.

Tampak Sheikh Abdur-Rahman as-Sudais [imam besar Masjidil Haram] berdiri di posisi terdepan berkata :

"Istawuu / ﺁﺳﺘﻮﻭ (Luruskanlah shaf /barisan kalian masing-masing)"

Maka berdirilah jutaan jama'ah tersebut dalam shaf-shaf / barisan yg tersusun menjadi rapi & hanya butuh waktu tidak lebih dari 2 menit.

Lihatlah betapa agungnya agama ini dengan memiliki sistemnya sendiri.

Si Amerika tadi terperanjat dengan argumennya sendiri yg dipatahkan oleh kenyataan yg ada di depannya.



Karena Imam
Karna masing2 diri sudah paham akan yg diperintahkan oleh imam sholat. 2.karna masing2 diri punya kesadaran unt thoat pada imam sholat.


materi copas 

Thursday, December 1, 2011

Suami Istri yang tidak sempurna


gue dapet ini dari group di FB. dan gue suka. karna kata2nya tidak membebankan istri.

Untuk semua wanita yang bergelar istri maupun yang bakal menjadi istri... mari kita hayati apa yang terbetik dalam syair dibawah ini.

Untuk Istri

Pernikahan ataupun perkawinan,
Membuka tabir rahasia,

Suami yang menikahi kamu,
Tidaklah semulia Muhammad,
Tidaklah setakwa Ibrahim,
Pun tidak setabah Ayub,
Atau pun segagah Musa,
Apalagi setampan Yusuf

Justeru suamimu hanyalah pria akhir zaman,
Yang punya cita-cita,
Membangun keturunan yang soleh ...

Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama,

Suami menjadi pelindung, Kamu penghuninya,
Suami adalah Nakoda kapal, Kamu navigatornya,

Suami bagaikan balita yang nakal, Kamu adalah penuntun kenakalannya,
Saat Suami menjadi Raja, Kamu nikmati anggur singasananya,
Seketika Suami menjadi bisa, Kamu lah penawar obatnya,
Seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah memperingatkannya ...

Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajarkan kita perlunya iman dan takwa,
Untuk belajar meniti sabar dan redha,
Karena memiliki suami yang tak segagah mana,
Justeru Kamu akan tersentak dari alpa,

Kamu bukanlah Khadijah,

yang begitu sempurna di dalam menjaga
Pun bukanlah Hajar,
yang begitu setia dalam sengsara
Cuma wanita akhir zaman,
Yang berusaha menjadi solehah...

Amin.


Friday, September 30, 2011



Don’t ask how many fruits you can pick, but ask how many seed you can spread
(Jangan tanyakan berapa banyak buah yang dapat kamu petik, tapi tanyakanlah berapa biji yang dapat kamu tanam.)

‘Sebaik baik kamu adalah yang lebih banyak memberikan manfaat kepada sesama manusia.’ (Al-Hadist)
Di dunia ini dipenuhi dengan ketergantungan, sebab kuasa Allah pada semesta. Ada yang lemah ada yang kuat, ada yang kecil ada yang besar. Yang lemah bergantung pada yang kuat, tapi yang kuat pun bergantung pada yang lemah. Sama halnya dengan hal yang besar, yang besar bergantung pada yang kecil dan sebaliknya. Banyak sekali contohnya, seperti tidak akan ada murid kalau tidak ada guru, dan sebaliknya, tidak akan ada guru kalau tidak ada murid.

Semua makhluk di dunia ini diberikan peran oleh Allah sesuai dengan kedudukannya. Semua bisa memberikan manfaat pada yang lain, yang dalam ilmu biologi disebut simbiosis mutualisma. Tanpa memandang derajat, semua bisa berbuat kebaikan untuk yang lain. Demikian juga dalam kehidupan kita manusia. Sebagai manusia, dulu kita berawal dari tidak ada, lalu lahir sebagai bayi, kemudian menjadi anak anak, meningkat lagi menjadi remaja, dewasa dan menjadi tua kemudian tiada. Sebagai bayi kita bergantung pada bapak dan ibu kita, tetapi setelah baligh ketergantungan itu harus segera kita akhiri. Jangan berharap terus kita akan mendapat kebaikan kebaikan dari orang lain sebagaimana kita bayi dulu, tapi berpikirlah untuk menanyakan berapa banyak kebaikan kita yang akan dan telah kita tanam, kita berikan kepada orang lain.

Secara logika masih sangat wajar, jika yang lemah bergantung terus pada yang kuat. Demikian juga kita, karena masih merasa muda punya prinsip tergantung terus pada kedua orang tua. Belum berpikir untuk berbuat yang baik. Itu wajar, tapi kapankah kita mulai menanam kebaikan pada yang lain. Sebagai anak bisa kita mulai dengan toat kepada orang tua. Nurut dan menyadari akan kemampuan kedua orang tuanya. Belajar yang tertib, ngaji yang rajin dan membantu sebisa mungkin tugas orang tua. Sekolah yang rajin, tugas tugas dikerjakan dan bergaul dengan teman teman yang baik . Karena kita belum bisa, maka kita tidak malu untuk belajar, menjadi murid. Tidak malu bertanya karena saatnya nanti kita akan mengajar, menjadi guru. Karena kita masih muda, kita menghormat pada yang tua. Dan masih banyak lagi yang bisa kita perbuat sebagai amal kebaikan kita pada yang lain. Caranya dengan mengetahui dan mempelajari akan hak hak dan kewajiban kita. Tanamkanlah kebaikan sebanyak banyaknya, sekecil apapun amal kebaikan itu, seperti membuang duri di jalan, menyingkirkan kotoran dll. Ingatlah cerita tukanq sapu masjidnya Rosul. Dibandingkan dengan sahabat sahabat yang lain, yang ahli perang, ahli ilmu, sepertinya tukang sapu itu tak berharga. Sampai sampai ketika matipun Rasul tidak diberitahunya. Tetapi apa kemudian, begitu Rasulullah tidak menjumpainya, Rasul menanyakannya, dan setelah diberi tahu tentang kematiannya, Rasulpun menanyakan kuburannya dan sholat di sampingnya. Begitu berharganya sebuah kebaikan yang dikerjakan sesuai dengan kemampuannya.
‘Allah tidak memaksa kepada diri seseorang kecuali apa apa yang kuat baginya.’ (Q.S. Al Baqoroh: 282 )

Sumber :Ustadz.Faizunal Abdillah (Dari catatan CAI 90-an).